Rabu, 15 April 2020



SEJARAH AHLUL BAIT RASULULLAH

MANAQIB AL-HABIB ALI BIN SYEKH ABU BAKAR BIN SALIM PALEMBANG


AL HABIB ALI BIN SYECH ABU BAKAR BIN SALIM PALEMBANG


( PANGERAN SYARIF ALI – KESULTANAN PALEMBANG ) 

Al Habib lahir dari pasangan penuh berkah Habib Abu bakar bin Sholeh B.S.A. dan Syarifah Nur binti Ibrohim bin Yahya, sejak kecil beliau dididik langsung oleh kedua orangtuanya dengan pendidikan agama yang terbaik. Ayah beliau, Habib Abu Bakar, yang lahir di kota 'Inat Hadromaut adalah cucu se orang Wali Besar yaitu Habib ‘Ali bin Ahmad B.S.A., salah satu murid Al Imam Al Quthub Al Habib ‘Abdullah bin Alwi bin Muhammad Al Haddad Shohiburrothib.

Tradisi tarbiyah (pendidikan) keilmuan yang diterima Habib ‘Ali bin Ahmad dari gurunya ini dan guru-gurunya yang lain, serta dari generasi habaib sebelumnya, beliau pegang teguh dan diteruskannya kepada para muridnya, keluarganya, anak-cucunya, dan begitu seterusnya. Demikianlah, hingga sampailah kepada salah seorang cucunya yang bernama Abu Bakar, yang kemudian meneruskan tarbiyah itu kepada putranya yang bernama ‘Ali, yang di kemudian hari dikenal sebagai Pangeran Syarif ‘Ali.

Pangeran Syarif ‘Ali atau Habib ‘Ali bin Abu Bakar bin Sholeh bin ‘Ali bin ‘Ahmad Bin Syech Abu Bakar bin Salim Asseggaf, lahir di kota Palembang, pada tahun 1208 H/1790 M, atau lebih kurang sekitar 220 tahun yang lalu. Pada masa itu, Kesultanan Palembang Darussalam dipimpin seorang sultan yang sholeh, yaitu Sultan Muhammad Bahauddin, putra sultan terdahulu, Ahmad Najamuddin I.

Gelar Pangeran yang disandang beliau adalah karena kedekatan dirinya dengan keluarga besar Kesultanan Palembang Darussalam, baik secara nasab, pertalian pernikahan, maupun kedudukannya sendiri di dalam lingkungan pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam. Nenekn beliau dari sebelah ibu adalah cucu Sultan Mahmud Badaruddin Sedangkan salah seorang istrinya, yang bernama Laila atau bergelar Ratu Maliya adalah putri Sultan Husein Dhiauddin.
Ibundanya yaitu Syarifah Nur binti Ibrahim Bin Yahya, adalah seorang wanita sholehah putri seorang Al Allamah Habib Ibrohim bin Zein bin Yahya,beliau adalah Ahli Tasawwuf. Pangeran Syarif ‘Ali mendapatkan banyak pelajaran dari ibunya sendiri di samping tambahan pelajaran lainnya dari para paman beliau, seperti Habib ‘Abdullah bin Ibrohim dan Habib Syech bin Ibrohim, serta dari banyak ‘ulama lainnya pada masa itu.

Diriwayatkan, beliau memiliki koleksi hingga sekitar seribu kitab. Untuk ukuran saat itu, jumlah sebanyak itu tentu sangat spektakuler. Ini menunjukkan kecintaan-nya pada ilmu sekaligus keluasan ilmu beliau yang mendalam.

Masa kecil beliau, sebagaimana putra-putri keluarga ‘Alawiyyin lainnya, selalu berada dalam lingkungan pendidikan agama, baik dari orangtuanya sendiri maupun dari para guru. Disebutkan, sejak kecil kecerdasannya terlihat menonjol dan beliau memiliki banyak teman sepergaulan yang berpendidikan. Bersama orang tuanya, Pangeran Syarif ‘Ali sering mengunjungi kesultanan, hingga
beliau pun memiliki kedekatan dengan sultan kala itu.

Menginjak remaja, Pangeran Syarif ‘Ali giat melakukan pelayaran niaga, terutama ke Kalimantan dan Jawa. beliau arungi lautan yang luas dengan kapal kayu pinisi sederhana, di tengah ancaman badai besar dan gelombang laut yang kerap datang menghadang. Belum lagi ancaman kehadiran kawanan bajak laut yang sangat marak pada saat itu. Ganasnya alam telah membentuk kepribadiannya yang dikenal sebagai seorang yang gagah berani, teguh pendirian, tidak banyak bicara, dan bersikap tegas dalam menangani persoalan.
Suatu saat, Sultan Husein Dhiauddin meminta beliau menyelesaikan sebuah misi khusus kesultanan ke Pulau Kalimantan. Maka karena berhasil menyelesaikan misi tersebut itulah beliau, yang masih dalam usia relatif muda, dipercaya Sultan memegang jabatan bendahara kesultanan dan dinikahkan dengan salah satu putrinya, Raden Ayu Maliya.

Dari pernikahannya dengan putri sultan ini, beliau mendapat putra bernama Hasan, yang setelah dewasa memutuskan untuk hijrah ke negeri lain. Berbekal sejumlah uang dan wasiat pemberian ayah beliau, berangkatlah Habib Hasan bin Pangeran Syarif ‘Ali dengan kapal ayahbeliau berlayar ke arah timur. Namun tidak sampai ke tujuan, karena kapalnya karam di Selat Bangka atau Belitung dan dia selamat mendarat di suatu kampung nelayan.

Dari buku Sejarah Daerah Sumatera Selatan (Depdikbud, 1991-1992), disebutkan, masjid yang pertama ada di Pulau Belitung didirikan oleh Sayyid Hasan bin Syech Abu Bakar. Belum diketahui, apakah nama ini ada hubungannya dengan putra Pangeran Syarif ‘Ali yang juga bernama Hasan.
Pangeran Syarif ‘Ali, dalam usia yang relatif muda, telah dipercaya memegang jabatan bendahara kesultanan. Namun beliau hadir di lingkungan istana pada masa-masa pahit yang dialami keluarga sultan.

Dalam suasana kebencian kepada Belanda setelah kesultanan dilumpuhkan dan kemudian dihapuskan, terjadilah keresahan di tengah-tengah rakyat.
Mengantisipasi hal ini, sejalan pula dengan politik kolonial, setelah meneliti beberapa pilihan pribadi, di antaranya yang dinilai paling berpengaruh di kalangan keluarga kesultanan dan di kalangan masyarakat umum, Belanda mengangkat Pangeran Syarif ‘Ali sebagai Pegawai Tinggi Pembantu Residen untuk menjalin hubungan dengan semua golongan masyarakat.

Pangeran Syarif ‘Ali merasakan hal ini sebagai sebuah dilema. Kekuatan tentara kesultanan telah dilumpuhkan. Dapat ditebak, bila beliau menolak, hukuman seperti yang diterima ayah mertuanya juga akan ia dapat. Bila diterima, beliau hanya menjadi alat musuh, yang waktu itu sangat memerlukannya.

Mempertimbangkan banyak hal, sosok yang selalu tak lepas dari sorban dan jubah itu akhimya memutuskan untuk menerima jabatan tersebut, dengan catatan, ia tak berkenan duduk di meja kerjanya di kantor Residen. Dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari, beliau pun ingin dibantu oleh putra beliau Abu Bakar, atau dikenal dengan Pangeran Bakri.
Meski tampaknya tidak menyukai kehadiran Pangeran Syarif ‘Ali, yang selalu mengenakan pakaian ke’ulamaannya, Residen Belanda saat itu memerlukan pengaruhnya. Maka, persyaratan itu pun dapat diterimanya. L.W.C. van den Berg menyebutkan, Belanda telah menggunakan pengaruhnya dan pengaruh putranya selama hampir setengah abad. Sebaliknya, Pangeran Syarif ‘Ali sebenarnya tak sudi berhubungan dengan mereka. Karenanya, uang gajinya, yang tergolong amat besar pada saat itu, selama ber-puluh-puluh tahun lamanya, tak satu sen pun beliau ambil.

Pangeran Syarif ‘Ali wafat pada 27 Muharram 1295 H/1877 M dalam usia 87 tahun di kota Palembang. Jenazah beliau dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga, yaitu di Gubah 3 ilir Palembang.

Kedudukannya dalam hal keilmuan digantikan oleh putra beliau, Habib Muhammad Mahmud. Sedangkan dalam hal aktivitas beliau di kesultanan, digantikan oleh putra beliau, Habib Abu Bakar, atau dikenal dengan Pangeran Bakri.

Minggu, 22 September 2019

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللّٰهِ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Muqaddimah

Tentang Pentingnya Ilmu Nasab Dan Memeliharanya Pada Masa Era Globalisasi

Segala Puji Bagi Allah Yang Maha Esa, Maha Agung Lagi Maha Segala-Nya. Atas Segala Limpahan Rahmat Beserta Karunia-Nya Yang Tidak Terhingga, Kasih Sayang-Nya Yang Abadi, Pintu Maaf-Nya Yang Tidak Pernah Terkunci Bagi Setiap Hamba-Nya Yang Berserah Diri Keharibaan Ilahi Rabbi, Tuhan Semesta Alam Yang Maha Luhur Nan Suci.

Shalawat Serta Salam Kami Haturkan Kepada Junjungan Kami, Rasul Penghulu Alam, Nabi Agung, Manusia Pilihan Sayyidina Wa Maulana Muhammad SAW, Dan Bagi Para Keluarganya Yang Suci Lagi Mulia, Para Imam Pemimpin Umat Yang Menjadi Pewaris Nabi Muhammad SAW, Serta Kepada Para Sahabat Pilihan Dan Juga Para Pengikutnya Yang Senantiasa Yang Memegang Teguh Al-Qur'an Dan As-Sunnah Baik Dari Generasi Awal Hingga Di Akhir Zaman.

Ilmu Nasab Atau Ilmu Silsilah Adalah Ilmu Yang Membahas Garis Keturunan / Susunan Jalur / Asal Muasal Seseorang Baik Keturunan Bangsawan, Raja / Ratu / Sultan / Pangeran, Raden Maupun Keturunan Dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

"Bagi Mereka Yang Telah Dikaruniakan Oleh Allah SWT, Nasab Dan Keturunan Yang Mulia Hendaklah Menjaga Dan Memeliharanya Sebagaimana Yang Telah Dilakukan Oleh Para Wali Dimasa Hidupnya 

Selasa, 17 September 2019

Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong

Karangbong - Pajarakan - Probolinggo - Jawa Timur - Indonesia

Manaqib Sayyidi Syaikhona KH. Muhammad Hasan Genggong

Profil KH.Muhammad Hasan Bin Syamsuddin Bin Qoiduddin Al-Adzmatul Khan Al-Jawi
Nama Lengkap         : KH.Muhammad Hasan Al-Jawi
Nama Masa Kecil      : Non Ahsan Bin Syamsuddin
Nama Akrab Panggilan : Kyai Hasan Sepuh Genggong
Tempat,Tanggal Lahir : Probolinggo,27 Rajab 1259 H
Tempat,Tanggal Wafat : Probolinggo,11 Syawal 1374 H
Alamat Asal         : Desa Sentong Kecamatan Krejengan Kabupatrn Probolinggo
Alamat Tinggal       : Desa Karangbong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo

Kabupaten Probolinggo Tampaknya Memiliki Cendikiawan Muslim Sejak Puluhan Tahun Lamanya. Berdirinya Beberapa Pondok Pesantren Sebagai Pusat Kajian Keagamaan Merupakan Manifestasi Penyebaran & Dakwah Ajaran Islam Oleh Para Cendikiawan Muslim Tersebut. Hal Ini Adalah Sebagai Tindak Lanjut Dari Tradisi Sebelumnya Yang Diajarkan & Disebar Luaskan Juga Dipopulerkan Oleh Para Dewan Wali Songo Seperti ;
1. Syeikh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik),
2. Syeikh Maulana Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel),
3. Syeikh Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang),
4. Syeikh Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri),
5. Syeikh Maulana Syahid Abdurrahman (Sunan Kalijaga)
6. Syeikh Maulana Abdul Hasyim / Qasim (Sunan Drajat)
7. Syeikh Maulana Jakfar Shadiq (Sunan Kudus),
8. Syeikh Maulana Umar Syahid (Sunan Muria),
9. Syeikh Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan G.Jati).

Tidak Heran Apabila Di Wilayah Kabupaten Probolinggo Termasuk Salah Satu Wilayah Yang Populer Dengan Adanya Kontribusi Daripada Para Cendikiawan Muslim. Salah Satunya Adalah Al-Arifbillah Al-Qutub Arrabbani Asshamadani Hadratus Syeikh KH.Muhammad Hasan Bin Syamsuddin Bin Qoiduddin Al-Adzmatul Khan Al-Jawi Genggong. Seorang Ulama' Yang Termasyhur Sederhana, Alim Allamah,Cerdas,Ramah Tamah,Suka Menolong, Tawadhu',Budi Pekerti (Akhlaq Yang Luhur),Muballigh, Tokoh Agama Dan Juga Tokoh Pengarang Kitab Nadzham "Safinatun Najah" & Beberapa Kitab-Kitab Yang Lainnya Guna Untuk Pembelajaran Bagi Masyarakat Dalam Memperdalam Ilmu Agama Islam Pada Saat Itu. Beliau Lahir Di Probolinggo 27 Rajab 1259 H / 1840 M. Nama Asli Beliau Adalah KH.Muhammad Hasan,Namun Dikalangan Masyarakat Umum Akrab Memanggilnya Dengan Sebutan Kyai Hasan Sahaja. Panggilan Kyai Hasan Tersebut Sangatlah Populer Sampai Masyarakat Nyaris Tidak Mengetahui Nama Lengkapnya. Namun Sewaktu Beliau Masih Kecil Biasa Akrab Dipanggil Non Ahsan, Nama Hasan Dan Ahsan Tersebut Sudah Akrab Dipanggil Dari Masa Kecilnya. Tapi Di Masa Tuanya Beliau Akrab Dengan Sebutan Kyai Hasan Sepuh Genggong,Dan Dikalangan Para Ulama' Dan Para Kyai (Masyayikh) Beliau Mendapatkan Julukan Dan Sebutan Syeikh.Namun Yang Lebih Terkenal Beliau Akrab Dengan Panggilan Kyai Hasan Sepuh Genggong Oleh Kalangan Banyak Masyarakat,Sehingga Sebutan Kyai Hasan Sepuh Genggong Terus Digunakan Sampai Sekarang,Untuk Menceritakan Masa Hidupnya (Manaqib Beliau). Nama Kyai Muhammad Hasan Dicantumkan Lengkap Pada Kitab Karangannya Yang Dicetak Saat Ini,Dan Tidak Menggunakan Nama Panggilan Ataupun Sebutan Lagi.

KH.Muhammad Hasan Lahir Dari Seorang Pasangan Yang Sangat Sederhana,Terhormat Dan Mulia Yaitu Ayahandanya Yang Bernama Hadratus Syeikh KH.Syamsuddin (Kyai Miri) Dan Dari Seorang Ibundanya Yang Bernama Hadratus Syeikhah Nyai Hajjah Khadijah (Nyai Miri). Mata Pencaharian KH.Syamsuddin (Kyai Miri) Adalah Mencetak Genting Dimana Hasilnya Untuk Keperluan Keluarga Dan Sebagian Untuk Keperluan Sosial. Sebelum KH.Muhammad Hasan Ada Dalam Kandungan Ayah Beliau KH.Syamsuddin Bermimpi Bahwa Istrinya Yaitu Nyai Hajjah Khadijah Sedang Merenggut Bulan Purnama Dan Kemudian Melahap Sampai Habis Bulan Tersebut,Beberapa Hari Kemudian Nyai Hajjah Khadijah Hamil Dan Sembilan Bulan Kemudian Melahirkan Seorang Anak Laki-Laki Yang Mereka Diberikan Nama Muhammad Hasan Atau Yang Biasa Dipanggil Ahsan Bin Syamsuddin.
KH.Muhammad Hasan Ditinggalkan Oleh Ayahandanya Pada Waktu Beliau Masih Kecil Sehingga Sang Ibundanya Yang Harus Berjuang,Mendidik Dan Menggembleng Beliau.

Pada Masa Kecil Dan Remajanya,Syeikh Hasan Menempuh Beberapa Pendidikan Diantaranya Adalah Ketika Waktu Masih Kecil Beliau Berada Di Pondok Pesantren Sentong Dibawah Asuhan Ayahandanya Tercinta KH.Syamsuddin. Beliau Belajar Dari Kecil Sampai Berumur 14 Tahun. Hubungan Dengan Keluarga Juga Baru Dimulai Diumur 14 Tahun. Kemudian Beliau Melanjutkan Pendidikannya Di Pondok Pesantren Sukonsari Pojontrek Pasuruan Dibawah Asuhan KH.Muhammad Tamim. Tidak Cukup Lama Dalam Pesantren Sukonsari,Kemudian Beliau Menngabdikan Dirinya Di Pondok Pesantren Bangkalan,Dibawah Bimbingan Hadratus Syaikhona KH.Muhammad Kholil. Di Pesantren Itulah Beliau Menggembleng Dirinya Serta Memperdalam Semua Ilmu Agama Selama 32 Tahun.

Selasa, 03 September 2019

Sejarah Para Ulama' Nusantara Indonesia

Manaqib Sirah Syeikh Maulana Abdul Samad Al-Falimbani
"( Tuan Datuk Sanggul )" 
Palembang - Kalimantan Selatan - Indonesia

Seorang Ulama' Besar Di Bumi Nusantara Indonesia
Serta Pejuang Di Tanah Melayu Pattani Pauk Boh Thailand

Beliau Lahir Di Palembang Pada Tahun 1704 M / 1116 H, Masyarakat Palembang Juga Banyak Keturunan Dari Syeikh Abdul Samad Al-Falimbani. Beliau Banyak Bersahabat Dengan Beberapa Ulama' Besar Pada Masanya, Diantaranya Ialah ;
1. Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari ( Datuk Kalampayan )
2. Syeikh Abdul Wahab Bugis ( Menantu Datuk Kalampayan )
3. Syeikh Abdurrahman Al-Masri (Kakek Habib Utsman Betawi),
4. Syeikh Tuan Muhammad Daud Al-Fatani ( Ulama' Melayu ).

Syeikh Abdul Samad Al-Falimbani, Seorang Ulama Besar Sufi, Seorang Ulama' Ahli Strategi Dalam Bidang Perang, Dan Juga Ulama' Ahli Fiqih, Ushul Fiqih, Ahli Hadits, Dan Beliau Juga Seorang Syuhada' Karena Pada Masa Itu, Beliau Membela Dan Andil Ikut Perang Melawan Kerajaan Siam Buddha Yang Ingin Merebut Wilayah Kekuasaan Bumi Melayu Pattani Kampung Pauk Boh Yang Sekarang Menjadi Bagian Negara Thailand.

Syeikh Abdul Samad Al-Falimbani, Mati Syahid ( Wafat ) Dalam Berjuang Bersama Para Tentara Melayu Kedah Malaysia Yang Melawan Kerajaan Siam Buddha Thailand. Menurut Masyarakat Palembang, Makam Beliau Ada Di Kawasan Tengah Hutan Daerah Palembang Kalimantan Selatan. 

Beliau Salah Satu Keturunan Daripada Ulama' Asal Arab Yaman Selatan. Karena Ayah Beliau Bernama Syeikh Sayyid Abdurrahman Bin Abdul Jalal Bin Abdul Wahab Bin Al-Imam Al-Qutub Syeikh Sayyid Ahmad Al-Mahdani Al-Yamani. Dan Juga Beliau Keturunan Melayu Karena Ibu Beliau Yang Bernama Sayyidah Dewi Zainab Adalah Putri Dari Kesultanan Kedah Yaitu Datuk Sri Maharaja Dewa Malaysia.

Menurut Sumber Lain, Ibu Dari Syeikh Abdul Samad Al-Falimbani Adalah Seorang Putri Kesultanan Palembang Yang Bernama Raden Ajeng Ranti. Jika Jika Dilihat Dari Garis Keturunan Ibu, Syeikh Abdul Samad Keturunan Dari Palembang Yang Dinisbatkan  Pada Namanya Yaitu " Al-Falimbani ". Seperti Para Ulama' Pada Masanya, Syeikh Abdul Samad Banyak Melakukan Pengembaraan Menuntut Ilmu. Baik Di Nusantata Maupun Di Negara Tetangga, Seperti Malaysia, Thailand, Dan  Arab Kawasan Timur Tengah ( Mekkah, Madinah, Yaman, Dan Juga Mesir ) Daerah Tanah Maghrib ( Maroko ).

Menuntut Ilmu Di Pattani

Guru Pertama Beliau Ialah Ayahnya Sendiri Yaitu Syeikh Sayyid Abdurrahman Bin Abdul Jalal Al-Mahdani Al-Yamani. Selanjutnya Beliau Pergi Menuntut Ilmu Ke Negeri Bumi Melayu Yaitu Pondok Pesantren Pattani Yang Diasuh Oleh Syeikh Sayyid Tuan Abdurrahman Bin Syeikh Sayyid Tuan Abdul Mubin Pauk Boh Al-Fatani Thailand. Pada Masa Itu Pattani Adalah Salah Satu Tempat Untuk Menimba Ilmu Ke Islaman Pertama Kali Didirikan Oleh Syeikh Sayyid Tuan Abdul Mubin Al-Fatani Di Bumi Melayu Kampung Pauk Boh Pattani Thailand, Dengan Sistem Pendidikan Pondok Pesantren. Kala Itu Pondok Pesantren Pattani Adalah Pesantren Yang Pertama Dan Tertua. Beliau Sejak Menimba Ilmu Di Berbagai Pesantren  Yang Ternama Sejak Itu Bersama Dengan Saudaranya Syeikh Abdul Qadir Al-Falimbani, Dan Syeikh Abdullah Al-Falimbani. Seperti Pondok Pesantren Pattani, Pondok Pesantren Bendang Gucil Di Kerisik, Dan Pondok Pesantren Sumala ( Kuala Bekah ) Aceh.

Diantara Para Gurunya Yang Di Pattani Ialah Syeikh Sayyid Tuan Abdurrahman & Syeikh Sayyid Tuan Abdullah Putra Dari Seorang Ulama' Besar Tersohor Di Bumi Melayu Pattani Yaitu Al-Alimul Allamah Syeikh Sayyid Tuan Abdul Mubin Al-Fatani. Dikota Suci Madinah Beliau Belajar Tasawwuf Kepada Seorang Ulama' Besar Sufi Termasyhur Yaitu Al-Alimul Allamah Al-Imam Al-Arifbillahi Al-Quthub Al-Aqthab Al-Ghauts Syeikh Syarif Muhammad Samman Al-Madani Al-Hasani RA. Dan Juga Mempelajari Ilmu Tasawwuf Kepada Al-Alimul Allamah Al-Arifbillahi Al-Imam Syeikh Sayyid Abdurrauf Al-Fansuri As-Saingkili Kuala Aceh. Juga Belajar Tasawwuf Kepada Al-Alimul Allamah Al-Arifbillahi Al-Imam Syeikh Sayyid Syamsuddin As-Sumatrani Aceh.

Dari Pattani, Syeikh Abdul Samad Al-Falimbani Belajar Ke Kota Suci Mekkah Dan Madinah. Disitulah Beliau Banyak Bersahabat Dengan Para Ulama' Dari Nusantara Seperti ;
1. Syeikh Muhammad Irsyad Al-Banjari ( Datuk Kalampayan )
2. Syeikh Abdul Wahab Bugis ( Menantu Datuk Kalampayan )
3. Syeikh Sayyid Abdurrahman Al-Batawi ( Mufti Betawi )
4. Syeikh Sayyid Tuan Muhammad Daud Al-Fatani.

Walaupun Menetap Di Kota Suci Mekkah, Beliau Masih Tetap Memberikan Perhatian Dan Pengaruh Besar Pada Perkembangan Sosial, Politik & Keagamaan Di Nusantara.

Belajar Dan Tabarukan Di Tanah Suci Haramain

Di Kota Suci Mekkah Dan Madinah Beliau Banyak Belajar Kepada Beberapa Ulama' Besar Ternama Diantaranya Ialah ;

1. Al-Alimul Allamah Al-Arifbillahi Al-Imam Al-Quthub Al-Ghauts Syeikh Syarif Muhammad Samman Bin Abdul Karim Al-Hasani,

2. Al-Alimul Allamah Al-Arifbillahi Al-Imam Al-Kabir Al-Masyhur Syeikh Sayyid Muhammad Bin Sulaiman Al-Kurdi Al-Haramain,

3. Al-Alimul Allamah Al-Arifbillahi Al-Imam Al-Kabir Al-Masyhur Syeikh Sayyid Abdullah Mu'in Al-Damanhuri Al-Haramain,

4. Al-Alimul Allamah Al-Arifbillahi Al-Imam Al-Kabir Al-Masyhur Syeikh Sayyid Muhammad Ibrahim Al-Raisi Al-Haramain,

5. Al-Alimul Allamah Al-Arifbillahi Al-Imam Al-Kabir Al-Masyhur Syeikh Sayyid Muhammad Al-Mauraddi Al-Haramain,

6. Al-Alimul Allamah Al-Arifbillahi Al-Imam Al-Kabir Al-Masyhur Syeikh Sayyid Muhammad Al-Jauhari Al-Haramain,

7. Al-Alimul Allamah Al-Arifbillahi Al-Imam Al-Kabir Al-Masyhur Syeikh Sayyid Al-Habib Atha'ullah Al-Mashri Al-Husaini.

Ulama' Sufi

Meskipun Mendalami Tasawwuf, Beliau Masih Dikenal Kritis. Dia Sering Berdebat Diantara Para Kalangan Yang Mempraktekkan Tarekat Secara Berlebih2an. Beliau Selalu Mengingatkan Akan Bahaya Kesesatan Yang Diakibatkan Oleh Aliran2 Tarekat Tersebut. Wabil Khusus Tarekat Yang Mengatasnamakan Aliran Tarekat "Wujudiyyah Mulhid" Yang Terbukti Telah Membawa Banyak Kesesatan Di Aceh.

Untuk Mencegah Apa Yang Diperingatkannya Itu, 

Kamis, 29 Agustus 2019

Sejarah Berdirinya TPQ - Madin Bairoh
Watu Urip-Pringgowirawan-Sumberbaru-Jember

Berbicara Tentang Berdirinya TPQ - Madin Bairoh, Tentunya Tidak Akan Lepas Dari Seorang Pemuda Asal Dari Probolinggo Yang Bernama "Al-Faqir Muhammad Dyan Al-Jawi", Yang Juga Didukung Oleh Seluruh Jajaran Pengurus Takmir Masjid Jami' Baitur Rohman Batu Urip, Dan Juga Dibantu Oleh Peranan Salah Satu Pengurus Yaitu Bpk Anang Suhartono. TPQ Bairoh Lahir Karena Adanya Permintaan Dan Dukungan Dari Salah Satu Pengurus Takmir Masjid Jami' Baitur Rohman Yakni Bapak Anang Suhartono, SH. & Juga Direstui Oleh Ketua Umum Takmir Masjid Yaitu Al-Mukarram KH. Abdullah Yusuf Bachtiar ( Pendiri & Pengasuh Ponpes Miftahul Ikhlas Batu Urip ).

Pada Awalnya Pemuda Itu Dimintai Oleh Salah Satu Pengurus Masjid Jami' Baitur Rohman, Untuk Mengajar Pada Kalangan Tingkat Orang Dewasa Yang Masih Belum Memahami Tentang Mengaji Al-Qur'an Di Masjid Jami' Baitur Rahman, Tapi Waktu Demi Waktu Hal Itu Belum Ada Kepastian Dari Pemuda Tersebut. Tak Lama Kemudian, Pada Waktu Itu Ada Rapat Pembentukan Imam Dan Bilal ( Mu'addzin ) Masjid Jami' Baitur Rahman, Pemuda Itu Diberikan Waktu Dan Kesenjangannya Untuk Menghadiri Rapat ( Musyawarah ) Pembentukan Imam, Bilal ( Muaddzin ), Yang Bertempat Di Kediaman Sekretaris Takmir Yaitu H. Noor Dhani Herlambang, Ditengah-Tengah Rapat Dalam Membahas Musyawarah Tersebut, Pemuda Itu Di Tunjuk Oleh Salah Satu Pengurus Untuk Dijadikan Salah Satu Muaddzin Shalat Maktubah Dan Juga ( Bilal ) Jum'at Tepatnya Hari Jum'at Legi Dan Imam Shalatnya Waktu Itu Ialah Al-Mukarram KH. Lutfi Saifur Ridzal Seorang Tokoh Agama Di Lingkungannya. Setelah Itu Pemuda Yang Bernama Al-Faqir Muhammad Dyan Al-Jawi, Itu Ditunjuk Lagi Untuk Membidangi Dalam Hal Pendidikan Tingkat Anak-Anak ( Taman Pendidikan Al-Qur'an ), Tetapi Waktu Itu Masih Belum Ada Satu Pun Anak-Anak ( Santri ) Yang Mau Mengaji Di Tempat Itu. Setelah Mendapatkan Mandat ( Amanah ) Dari Ketua Takmir Masjid Jami' Baitur Rohman, Kemudian Pemuda Itu Menyanggupinya. Jadinya Mulai Ada Amanah Tersebut, Pemuda Itu, Berniatan Karena Allah Mencari Ridho Allah, Untuk Berjuang, Mengabdi, Menebar Dan Mengamalkan Ilmu Walaupun Hanya Satu Kalimat. Ia Rela Berkorban Dengan Semaksimal Mungkin Untuk Mencari Para Anak-Anak ( Santri ) Untuk Mau Mengaji Dan Belajar Di Masjid Jami' Baitur Rahman, Yang Juga Dibantu Oleh Bpk Anang Suhartono, SH. Hari Demi Hari Ia Hanya Mendapatkan Santri Sebanyak 10 Orang Anak, Untuk Dibinannya. Kemudian Setelah Berjalan 1 Bulan, Santri Tersebut Ada Yang Keluar, Dan Juga Bertambah 10 Santri Jadinya Jumlah Santri Waktu Sebulah Itu Hanya 18 Anak Santri. Dengan Ketekunan Dan Kegigihan Pemuda Itu. Datanglah Salah Seorang Ustadz Yang Notabenya Imam Masjid Tersebut Untuk Berkenan Membantunya Dalam Kegiatan Belajar Mengajar Di Masjid Jami' Baitur Rahman Yakni Al-Ustadz Muchlis Hidayatullah Dari Wedusan Alumnus Ponpes Hidayatul Muta'allimin Pondok Dalem Semboro.


Senin, 26 Agustus 2019

Sayyid Sulaiman Bin Abdurrahman Basyaiban
Sang Babat Kawasan Pesisir Laut Timur Pulau Jawa
Betek - Mojoagung - Jombang - Jawa Timur

Minggu, 25 Agustus 2019

Manaqib Sirah Sayyid Arif Abdurrahim Basyaiban
( Mbah Arif Segoropuro )
Sang Babat Kawasan Pesisir Selatan Pulau Jawa
Segoropuro - Rejoso - Pasuruan - Jawa Timur